Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Griya Kain Tuan Kentang: Dari B to B menjadi B to C

JOGJA, iseijogja.org – Departemen Komunikasi Bank Indonesia (DKom BI) menyelenggarakan “Temu Akademisi dan Peneliti” perwakilan PTN/PTS serta Lembaga Riset dari seluruh Indonesia.

Sofyan Chandra (Pemilik & Pengelola GKTK)

JOGJA, iseijogja.org – Departemen Komunikasi Bank Indonesia (DKom BI) menyelenggarakan “Temu Akademisi dan Peneliti” perwakilan PTN/PTS serta Lembaga Riset dari seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Hotel Arista, Kota Palembang. Agenda hari 1, peserta melakukan kunjungan ke UMKK salah satu mitra binaan Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatera Selatan (Selasa, 30/03/26). Hari kedua, kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan narasumber dari Bank Indonesia (Rabu, 01/04/26). Jumlah peserta sekitar 60 akademisi dan peneliti.

Kunnjungan UMKM di Griya Kain Tuan Kentang (GKTK). Kelompok usaha bersama tersebut berdiri tahun 2027 dan didirikan sebagai galeri tempat penjualan serta edukasi dari produk yang diproduksi oleh pengrajin kain khas Palembang. Produk dari GKTK yakni kain jumputan, songket, blongket, tajung hingga pakaian. GKTK menggunakan unsur “green and nature” dalam proses produksi dan pewarnaan. “Digunakan  memanfaatkan limbah getah gambir dan sebagainya sehingga mengurangi penggunaan pewarna sintetis yang dapat mencemari lingkungan air dan tanah”, jelas Sofyan Chandra (Pemilik dan pengelola GKTK).

Seperti diketahui, Tuan Kentang merupakan nama Kelurahan yang berada di Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang dan juga sebagai Kampung Tuan Kentang. Wilayah tersebut berada di tepi Sungai Ogan Palembang, tepatnya di pertemuan Sungai Musi dan Sungai Ogan. Nama Tuan Kentang ini konon adalah saudagar Tionghoa yang pernah punya bisnis besar di sepanjang muara sungai dan dimakamkan di kampung tersebut. “Kampung ini mempunyai keistimewaan dimana sebagian besar warganya hidup sebagai pengerajin kain tradisional Palembang seperti kain songket, blongsong, tajung dan kain jumputan atau kain Pelangi”, jelas Sofyan Chandra.

Melihat potensi yang dimiliki oleh Kampung Tuan Kentang ini, Pemerintah Kota Palembang bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) menjadikan kampung ini sebagai destinasi wisata baru di Kota Palembang. Telah dibangun sebuah galeri yang menampilkan kain-kain hasil karya penduduk setempat. Galeri bernama Griya Kain Tuan Kentang, jenis kain yang dijual antara kain Tajung, Jumputan, Blongsong, dan Songket dan harga ditawarkan juga relatif terjangkau.

“Dengan dukungan BI dan Pemkot Palembang usaha kami secara bertahap dapat berkembang”, ungkap Iyan panggilan Sofyan Chandra. Menurut Iyan, semula usaha yang berjalan di Kampung Tuan Kentang adalah antar pedagang (business to business/B to B). Sejalan dengan fasilitasi galeri maka  usaha berkembang menjadi business to consumer/customer (B to C). Dengan demikian pengrajin UMKM dapat berkonumikasi atau berhubungan langsung dengan pembeli/pelanggan.

Berkaitan dengan perkembangan usaha GKTK, sebagian peserta kunjungan dari Akademisi dan Peneliti menyampaikan pendapat. “Dari informasi pak Iyan maka GKTK dapat berkembang karena berkat dukungan BI”, jelas JB Suhartoko (Akademisi Unika Atmajaya Jakarta). Dukungan termaksud di samping fasilitas griya pam,eran, juga dalam pelatihan dan pendampingan khususnya dalam pemasaran, baik pameran di level nasional (Karya Kreasi Indonesia/KKI) dan pemasaran digital.

“Salah satu faktor keberhasilan UMKM adalah kerja keras dari pemilik dan pengelolanya”, tegas Abdul Mongid (Guru Besar FEB Unesa Surabaya). Menurut Mongid, pak Iyan merupakan tipikal pengusaha UMKM yang siap belajar dan bekerja keras, sehingga mampu mengoptimalkan potensi pengrajin di Kampung Tuan kentang. Jika belajar dari biografi pengusaha atau wirausaha yang berhasil adalah mereka yang pekerja keras dan pembelajar yang baik.

“Industri kain jumputan dan songket merupakan industri kreatif”, jelas Nugroho SBM (Guru Besar FEB Undip Semarang). Menurut Nugroho, pelaku industri kain memang harus kreatif baik dari desain dan bahan baku. Pelaku UMKM di Kampung Tuan Kentang nampak berhasil dalam  berkreasi untuk produk-produk yang mereka jual. Tantangan saat ini dan ke depan, produksi kain jumputan dan songket harus meningkatkan kualitas dengan penetapan harga yang tetap kompetitif.

“Produk kain jumputan dan songket juga diproduksi di wilayah lain di Indonesia maka kreativitas, kualitas dan harga menjadi faktor terpenting agar produk tetap mampu  bersaing”, harap Y. Sri Susilo (Dosen dan Peneliti FBE UAJY). Menurut Susilo, dukungan BI baik dari program “UMKM go Digital” dan “UMKM go Export” di berbagai daerah sampai saat ini mampu mendorong UMKM menuju naik kelas. “Jika Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) ke depan dapat disenergikan dengan program sejenis dari Kementerian, Pemda, Asosiasi pengusahan dan Perguruan Tinggi maka dukungan pengembangan UMKM dapat menjadi lebih optimal”, jelas Susilo dalam rilisnya kepada media.

Share: