JOGJA, iseijogja.org – Acara “Ranah Publik” TVRI Yogyakarta menyajikan topik “Menjadi Konsumen yang Bijak” (Jumat, 06/03/26). Selaku narasumber Prod. Dr. Dorothea Wahyu Ariani (Guru Besar FE UMBY), Ir. Siti Mulyani (Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta/LKY) dan Meika Hazim, SE, MBA (Pelaku Usaha). Bertindak sebagai pemandu acara (host) Moch. Hafid (TVRI Yogyakarta).
Konsumen yang bijak adalah pembeli yang bertindak rasional dengan memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan, melakukan riset kualitas dan harga, serta mempertimbangkan dampak lingkungan/sosial sebelum membeli. Mereka bertanggung jawab, teliti terhadap informasi produk, dan menghindari pembelian impulsif demi nilai optimal. Demikian hal penting yang mengemuka dalam acara “Ranah Publik” TVRI Yogyakarta tersebut.
Dari beberapa referensi, beberapa poin utama mengenai konsumen yang bijak: (1) Prioritas Kebutuhan: Mengutamakan barang yang benar-benar diperlukan dan memberikan kegunaan maksimal, bukan sekadar mengikuti tren. (2) Riset dan Perbandingan: Membandingkan harga, membaca ulasan, dan memeriksa label (sertifikasi/kadaluarsa) sebelum membeli.
Selanjutnya yang ke-3 adalah Perilaku Rasional: Mampu mengendalikan emosi, berpikir kontemplatif (menimbang ulang), dan tidak mudah terpengaruh gaya hidup. (4) Konsumsi Etis & Berkelanjutan: Memilih produk yang ramah lingkungan dan mendukung praktik perdagangan adil (fair trade). (5) Mengetahui Hak & Kewajiban: Memahami hak konsumen dan beritikad baik dalam transaksi, termasuk membaca petunjuk penggunaan.
Di bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Lebaran, perilaku konsumen yang kurang bijak atau rasional dimungkinkan terjadi. “Hal tersebut karena secara psikologis masyarakat ingin menyambut bulan Ramadhan dan Hary Raya Idul Fitri dengan sebaik-baiknya”, jelas Dorothea yang juga pengurus ISEI Cabang Yogyakarta. Menurut Dorothea, faktor Tunjangan Hari Raya (THR) juga menjadi salah satu pemicu masyarakat menjadi berlebihan. Berkaitan dengan hak tersebut, Guru besar FE UMBY tersebut mengingatkan sebagian THR yang diterima untuk ditabung. Tabungan tersebut untuk kebutuhan yang sifatnya berjaga-jaga dan investasi yang bersifat jangka panjang.
“Meningkatnya konsumsi masyarakat di bulan Ramadhan dan Hari Raya Lebaran tentu akan mendorong roda ekonomi dan berdampak pengganda yang berujung meningkatnya pertumbuhan ekonomi”, jelas Dorothea. Menurut Dorothea, efek pengganda (multiplier effect) termaksud dapat dilihat dari aktivitas konsumsi (pangan, fesyen dsb), transportasi, penginapan, komunikasi dan aktivitas sektor lain yang terkait. Jadi konsumsi masyarakat menjadi salah satu variabel penting untuk mendorong perekonomian (consumption led growth)
“Dorothea juga mengingatkan bahwa perilaku yang terlalu hemat malah akan berdampak negatif terhadap perekonomian”, jelas Dorothea yang hobby olahraga renang, jalan kaki dan bersepeda. Menurut Dorothea, jika masyarakat terlalu hemat maka akan muncul fenomena Paradox of Thrift, di mana penurunan drastis konsumsi masyarakat mengurangi perputaran uang, menurunkan pendapatan bisnis, memicu PHK, dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Ketiga narasumber sepakat bahwa konsumsi harus memperhatian skala prioritas dengan memperhatikan benar kebutuhan (needs) bukan sekedar keinginan (wants). Demikian juga berkonsumsi juga memperhatikan kebutuhan jangka panjang. Berkaitan dengan hal tersebut menabung dan berinvestasi menjadi hal penting dan menjadi prioritas.







