JOGJA, iseijogja.org – Laboratorium Ekonomi Bisnis Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (LEB FBE UAJY) bekerjasama dengan Kantor Kemahasiswaan, Pusat Karier dan Alumni UAJY dan CELIOS menyelenggarakan diskusi dengan topik “Menakar Ulang Kemaslahatan MBG”. Diskusi tersebut diselenggarakan di Ruang Seminar FBE UAJY (Selasa, 10/03/26).
Narasumber yang hadir dan menyajikan materi adalah Bhima Yudhistira Adinegara (Direktur Eksekutif CELIO, Jakarta), Aloysius Gunadi Brata (Guru Besar FBE UAJY), dan Fitri Nur Hidayati (Anggota PGSI DIY). Bertindak selaku moderator Pristanto Silalahi (Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY). Diskusi tersebut juga dihadiri oleh sekitar 120 dosen dan mahasiswa FBE UAJY.
“Makan bergizi merupakan Jaring Pengaman Global”, jelas Aloysius Gunadi Brata. Menurut Aloysius, program makan siang di sekolah merupakan salah satu sistem perlindungan sosial terbesar di dunia, mencakup setidaknya 407,8 juta anak di 148 negara. Lebih dari 100 negara telah bergabung dalam koalisi global dengan target ambisius, yakni menyediakan akses makanan bergizi bagi seluruh siswa pada tahun 2030.
Aloysius menyatakan di tengah tantangan ekonomi dan keterbatasan sumber daya, perluasan program ini dipandang sebagai katalisator strategis. Program ini tidak hanya fokus pada nutrisi, tetapi juga dirancang untuk memberikan manfaat ganda dalam mencapai berbagai poin SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).
Program MBG (Makan Bergizi Gratis) memang berpotensi membantu anak-anak miskin (syaratnya ini dijalankan dengan sebenar-benarnya), tapi berdasarkan temuan Opportunity Atlas, dampaknya terhadap mobilitas sosial kemungkinan besar terbatas jika berdiri sendiri. “Artinya, MBG membutuhkan dukungan agar terjadi mobilitas sosial, yakni: ekosistem lingkungan tempat anak tumbuh”, jelas Aloysius yang juga Kepala LEB FBE UAJY.
“MBG bisa menjadi fondasi yang perlu, tapi tidak cukup. Ia seperti memperbaiki bahan bakar mesin, sementara jalanan, peta, dan pengemudinya belum berubah”, ungkap Aloysius. Menurut Aloysius, mobilitas sosial yang nyata mensyaratkan perubahan ekosistem lingkungan secara menyeluruh dan itulah yang paling sulit, paling mahal, sekaligus paling berdampak.
Program Makan Bergizi Gratis MBG digadang sebagai program unggulan pemerintahan Prabowo Gibran. “Pemerintah melalui Bappenas menyebut 4 tujuan utama MBG”, jelas Bhima Yudhistira Adinegara. Tujuan tersebut mencakup pemenuhan gizi kelompok rentan. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. MBG diharapkan mendorong ekonomi lokal. Program ini sekaligus diklaim mampu menciptakan lapangan kerja.
Menurut Bhima, MBG membuat stok bahan pangan di distributor pertama terbatas. “Supply bahan pangan di pasar induk berkurang signifikan, padahal demand meningkat”, ujar Bhima. Kondisi tersebut dapat menjadikan, inflasi harga bahan pangan terjadi karena cost push dan demand pull terjadi bersamaan. Pada gilirannya, pedagang eceran, sektor rumah tangga dan UMKM menjadi korban terjadinya kenaikan harga atau inflai tersebut.
Studi CELIOS (2025), menempatkan MBG di antara urgensi sosial dan tantangan tata kelola kebijakan. Temuan menunjukkan 79% responden menyadari adanya konflik kepentingan dalam penunjukan langsung vendor. Sebanyak 73% orang tua lebih memilih bantuan langsung tunai dibandingkan MBG. Sebanyak 65% responden menyatakan tetap mengeluarkan uang tambahan untuk makanan pengganti MBG. “CELIOS juga merekomendasikan 85% pengadaan barang jasa MBG wajib berasal dari UMKM, Koperasi dan produk lokal, agar menjamin dampak berganda bagi ekonomi di daerah”, tegas Bhima Yudhistira Adinegara (Direktur Eksekutif CELIOS).
“Sebagian siswa kurang cocok atau berselera dengan menu makanan yang disajikan oleh MBG”, ungkap Fitri Nur Hidayanti. Dengan kondisi demikian maka ada sebagian siswa yang masih membawa bekal dan uang jajan. Selanjutnya Fitri mengakui bahwa terjadi beberapa kasus keracunan makanan MBG di beberapa sekolah. “Evaluasi pelaksanaaan MBG di sekolah harus dilakukan secara periodik agar menjadi semakin baik dari aspek menu dan tata laksana”, harap Fitri yang mewakili PGSI DIY.
Setelah tanya jawab, acara disksu diakhir dengan pemberian cindera mata untuk narasumber dan moderator yang diserahkan oleh AM Rini Setyastuti (Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY). “Acara diskusi, kuliah umum dan seminar secara diselenggarakan secara rutin setiap semester”, jelas Y. Sri Susilo (Plt. Humas FBE UAJY) dalam rilisnya kepada media.







