JOGJA, iseijogja.org – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki kontribusi nyata dalam menggerakkan perekonomian. Secara nasional, sektor ini menyumbang sekitar 61 persen terhadap PrDomestik Bruto (PDRB). Hal tersebut menjadikan seluruh pemangku kepentingan di DIY memiliki tanggung jawab bersama untuk terus mendorong pengembangan UMKM. Dukungan tidak hanya datang pentahelix yaitu pemerintah, tetapi juga dari sektor perbankan, akademisi, dunia usaha dan media.
Pernyataan tersebut muncul dalam Diskusi Terbatas bertajuk “Kontribusi Bank dalam Pengembangan UMKM di DIY” yang dirangkai dengan buka bersama. Kegiatan yang diinisiasi ISEI Cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Bank BPD DIY dan KADIN DIY tersebut digelar di Kantor Pusat Bank BPD DIY (Kamis, 05/03/25)). Diskusi tersebut juga dihadiri perwakilan OJK, Bank Indonesia, Akademisi/Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta, Pelaku Usaha, serta Perbankan.
Dalam diskusi tersebut selaku pemantik diskusi Santoso Rohmad (Dirut Bank BPD DIY). Pembahas oleh Gumilang AS (Wakil Ketua Bidang 1 ISEI Cabang Yogyakarta), Robby Kusumaharta (WKU Koordinator Bidang 1 KADIN DIY) dan Emerita Pratiwi (Pelaku dan pendamping UMKM). Selaku moderator Ronny Sugiantoro (Humas ISEI Cabang Yogyakarta).
Santoso Rohmad mengatakan, keberpihakan Bank BPD DIY terhadap pengembangan UMKM sejalan dengan salah satu misi perseroan sebagai agen pembangunan daerah. Fokusnya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sektor UMKM sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Kontribusi Bank BPD DIY tidak hanya berupa pembiayaan, tetapi juga capacity building melalui pendampingan dan pelatihan UMKM, UKM Center, pendampingan SiBAKUL, hingga Micro Business Simulation (MBS),” jelas Santoso. Selain itu, Bank BPD DIY juga menyediakan berbagai produk pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit PEDE, KUA, Kawan Usaha, Kredit Modal Kerja, hingga kredit investasi, serta produk simpanan seperti tabungan, giro, dan deposito.
Gumilang AS, menegaskan bahwa langkah Bank BPD DIY dalam pengembangan UMKM sudah berada di jalur yang tepat. Pelatihan dan pendampingan yang dilakukan selama ini dinilai sangat membantu pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya. “Digitalisasi UMKM yang dilakukan Bank BPD DIY juga perlu terus dilanjutkan dengan peningkatan literasi digital, sehingga pelaku usaha mampu memanfaatkan teknologi secara optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Robby Kusumaharto menuturkan Bank BPD DIY telah memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan UMKM di DIY, termasuk mendukung pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Menurutnya, ke depan status bank devisa bagi Bank BPD DIY bisa menjadi peluang untuk memperluas dukungan terhadap eksportir daerah. Robby juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir pelaku UMKM agar lebih proaktif. “Pengusaha, termasuk UMKM, harus mengubah mindset, berani menjemput peluang dan tidak hanya menunggu bantuan. Komunikasi dengan pemangku kepentingan, termasuk kampus, juga harus diperkuat,” tandanya.
Emerita Pratiwi (Pelaku dan Pendamping UMKM) menilai dukungan perbankan, khususnya dalam pembiayaan dan pendampingan, masih sangat dibutuhkan UMKM. Menurut Emerita, pelaku UMKM sangat beragam sehingga masalah yang dihadapi juga beragam. Berkaitan pelatihan dan pendampingan yang diberikan kepada UMKM harus sesuai dengan masalah dan potensi yang ada di masing-masing pelaku UMKM. Selain itu, pelaku usaha juga memerlukan dukungan perbankan untuk memperluas akses pasar ekspor.
Dalam acara diskusi terbatas tersebut juga dihadiri perwakilan Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta antara lain Dian Ariani, Rudy Badrudin, Fahmi Radhy, Rokhedi PS, Syaifuddin Anshori, Nurwiyanta, Rini Setyastuti, Relindawati, Handoko AH, Ahmad Maruf dan Y. Sri Susilo. Juga hadir Hermanto (BI DIY), Tim Apriyanto (KADIN DIY) dan Pimpinan/Staff Bank BPD DIY. “Acara diskusi ditutup dengan pembagian cindera mata, foto bersama dan buka puasa bersama”, jelas Y. Sri Susilo (Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta) dalam rilisnya kepada media.







