Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Tantangan Ekonomi Syariah

JOGJA, iseijogja.org – ISEI Cabang Yogyakarta akhir minggu lalu menyelenggarakan “Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah 2026” di Gedung Inovasi dan Kreativitas UGM Yogyakarta (Sabtu, 28/02/26).

Anggito Abimanyu (Narasumber) & Edy Suandi Hamid (Moderator)

JOGJA, iseijogja.org – ISEI Cabang Yogyakarta akhir minggu lalu menyelenggarakan “Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah 2026” di Gedung Inovasi dan Kreativitas UGM Yogyakarta (Sabtu, 28/02/26). Acara tersebut mengambil topik “Ekonomi Syariah (Tidak) Efisien dan (Tidak) Sesuai Prinsip Syariah“ dengan narasumber Anggito Abimanyu (Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan/LPS) dan moderator Edy Suandi Hamid (Ketua Dewan Pakar ISEI Cabang Yogyakarta). Jumlah peserta yang hadir sebanyak 50 orang yang terdiri dari Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta serta perwakilan media cetak dan elektronik.

Perkembangan bank syariah terhambat karena modal kecil dan terbatasnya ekspansi, sehingga perlu langkah anorganik seperti merger untuk memperkuat sisi penawaran dan layanan. Menurut, Survei SNLIK 2025 menunjukkan literasi keuangan syariah 43,42 persen dan inklusi 13,41 persen, jauh di bawah konvensional, menandakan perlunya peningkatan akses serta teknologi perbankan syariah.

“Saat ini baru Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Syariah Nasional (BSN) yang cukup berkembang”, ujar Anggito. Menurut Anggito, kontribusi bank syariah yang sebelumnya hanya 5 persen bagi industri, sejak tahun 2022 mengalami kenaikan menjadi 9 persen. Dengan demikian  sudah terjadi kenaikan kontribusi yang cukup besar. “Agar berkembang kontribusi bank syariah diharapakan mencapai 20 persen.

Anggito Abimanyu juga  mengungkapkan adanya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi perbankan syariah di Indonesia. Menurut Anggito, literasi ekonomi syariah telah mencapai 60 persen, sementara inklusinya baru sekitar 40 persen. “Kondisi tersebut berbeda dengan perbankan konvensional yang tingkat literasi dan inklusinya relatif seimbang”, ujar Anggito. Di sektor syariah, hambatan justru terjadi pada sisi penyediaan layanan sehingga menghambat masyarakat untuk beralih ke banki syariah.

“Masyarakat sebenarnya sudah tahu dan sadar bahwa saya harus bertransaksi di Bank Syariah, tapi memang suplainya kurang. E-banking-nya belum bagus, pricing-nya masih tinggi, kalau mau pembiayaan masih mahal, mau cari jaringannya sulit,” ujar Anggito Abimanyu yang juga Guru Sekolah DEB UGM Yogyakarta.

Menurut Anggito Abimanyu, pertumbuhan perbankan syariah tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar alami yang cenderung berjalan lambat. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah anorganik untuk mempercepat peningkatan suplai layanan.“Kalau diserahkan ke pasar, progresnya tidak akan cepat. Kendala utama ada pada suplai. Ketika modal bank syariah kecil, layanan ke masyarakat juga terbatas. Aksi korporasi seperti merger BSI dan pembentukan BSN menjadi solusi penting,” ujar Anggito yang juga hobby main musik.

“Selain penguatan modal, pengembangan bisnis perbankan syariah dinilai perlu diarahkan pada percepatan transformasi digital”, tegas Anggito. Menurut Anggito, keterbatasan jaringan kantor fisik dibandingkan bank konvensional membuat digitalisasi menjadi kunci untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus menekan biaya pembiayaan yang selama ini relatif lebih tinggi.

Sebelumnya Didi Achjari memberikan sambutan pembuka. Mewakili ISEI Cabang Yogyakarta, Didi mengucapkan terima kasih kepada LPS yang memberikan dukungan atas kegiatan jagingan ekonomi syariah. “Setelah diskusi atau jagongan dilanjutkan dengan buka bersama”, jelas Y. Sri Susilo (Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta) dalam rilisnya kepada media.

Share: